Selasa, 03 November 2015

Ejaan Yang Disempurnakan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB  I
          PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan
C.     Perumusan Masalah
BAB  II
          PEMBAHASAN
1.      Pengertian Ejaan
2.      Penulisan Unsur Serapan 
3.      Pemakaian tanda baca
4.      Ruang lingkup EYD
BAB III
          PENUTUP
          Kesimpulan
DAFTAR PUSAKA
KATA PENGANTAR

Puji  syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang  telah  memberikan  kesehatan  pada  kita semua sehingga penyusun dapat menyelesaikan  pembuatan  makalah tentang Ejaan dan Tanda Baca.  Makalah  ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Softskill dalam pengembangan dasar ilmu Bahasa Indonesia yang berkaitan dengan Ejaan dan Tanda Baca. Selain itu tujuan penyusunan makalah yang kami buat ini dapat menambah  pengetahuan dan pemahaman kita terhadap pentingnya penggunaan tanda baca yang benar sesuai dengan EYD.
  Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam  pembuatan  makalah  ini. Penulis sadar dalam  penulisan makalah ini  terdapat beberapa  kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran  untuk  menyempurnakan  makalah ini. Saya harapkan  makalah  ini dapat bermanfaat dan mampu menambah  wawasan  bagi semua orang.   



BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang

       Ejaan  adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu bahasa. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
            Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah sub. materi dalam ketata bahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat disampaikan dan dipahami secara komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.

            B.                         Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini yaitu :
1.      Memahami Konsep EYD 
2.      Memahami cara penulisan unsur serapan yang benar
3.      Ruang Lingkup EYD 
4.      Memahami cara penulisan tanda baca yang benar 

            C.            Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Ejaan Yang Disempurnakan itu?
2.    Apa yang dimaksud unsur serapan dan bagaimana cara penulisannya yang benar?
            3.    Bagaimana penggunaan tanda baca yang benar dalam EYD?




BAB II
PEMBAHASAN

1.        Pengertian Ejaan
Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan    menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ejaan adalah keseluruan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan antara lambang-lambang ( pemisahan dan penggabungannya dalam satu bahasa ) . Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.

2.      Penulisan Unsur Serapan 
        Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar yaitu:
           a. Unsur yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle,     shuttle           cock, I’ exploitation de I’homme par I’homme, unsure-unsur ini di pakai dalam konteks bahasa            Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
        b. Unsur asing yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa         Indonesia diusahakan agar ejaan asing diubah seperlunya hingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Di samping itu, akhiran yang berasal dari bahasa asing diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata yang seperti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh disamping kata standar, implement, dan objek. 

3.        Pemakaian tanda baca
Pemakaian tanda baca dalam ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan mencakup pengaturan, yaitu :
1. Tanda titik
a. Tanda titik di pakai pada akhir singkatan nama orang. Misalnya:
- W.S. Rendra
    b. Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan, pangkat dan sapaan.
- S. Ked. ( Sarjana Kedokteran )
c. Tanda titik tidak di gunakan pada singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata dan pada singkatan yang dieja seperti kata (akronim). Misalnya:
- SMA NEGERI XXI
d. Tanda titik tidak di gunakan di belakang alamat pengirim dan tanggal surat serta dibelakang nama dan alamat penerima surat. Misalnya:
- Yth. Sdr. Imam Kurnia
Jalan Cisarua 12
Tasikmalaya
2. Tanda koma
Ada kaidah yang mengatur kapan tanda koma digunakan dan kapan tanda koma tidak digunakan. Misalnya:
a. Tanda koma harus digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian dan pembilangan. Misalnya:
- Saya menerima hadiah dari paman berupa jam tangan, raket, dan sepatu.
b. Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului kata tetapi, melainkan, dan sedangkan. Misalnya:
- Dia bukan siswa jayabaya, melainkan mahasiswa atmajaya.
c. Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimatnya. Biasanya, anak kalimat didahului kata penghubung bahwa, karena, agar, sehingga, walaupun, apabila, jika, meskipun, dan sebagainya. Misalnya:
- Apabila belajar sungguh-sungguh, Saudara akan berhasil dalam ujian.
d. Tanda koma harus digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, namun, meskipun demikian, dalam hubungan itu, sementara itu, sehubungan dengan itu, dalam pada itu, oleh sebab itu, sebaliknya, selanjutnya. Misalnya:
- Oleh karena itu, kita harus menghormati pendapatnya.
- Namun, kita harus tetap waspada.
e. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya:
- Kata petugas, “ kamu harus berhati-hati di jalan raya. “
f. Tanda koma digunakan untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya:
- Tjiptadi, bambang.1984. tata Bahasa Indonesia Cetakan II. Jakarta: Yudistira.
g. Tanda koma digunakan diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikuti untuk membedakannya dari singkatan nama keluarga atau marga. Misalnya:
    - Sobur, M.Sc.
3. Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung. Misalnya:
- Para pemikir mengatur strategi dan langkah yang harus di tempuh; para pelaksana mengerjakan tugas sebaik-baiknya; para penyandang dana menyediakan biaya yang di perlukan.
4. Tanda Titik Dua ( : )
a. Tanda titik dua di pakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya:
- Perguruan Tinggi Nusantara mempunyai tiga jurusan: Sekolah tinggi tekhnik, Sekolah Tinggi Ekonomi, Sekolah Tinggi Hukum.
5. Tanda Hubung ( - )
a. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
    Tiga-puluh-dua- pertiga ( 32/3 )
b. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang di mulai dengan huruf capital, (b) ke dengan angka, (c) angka dengan –an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata. Misalnya:
1) Pada tahun depan akan diadakan perlombaan paduan suara remaja se-Jawa Timur di Surabaya.
7. Tanda Petik ( “ … “ )
Tanda petik di pakai untuk menggapai petikan langsung, judul syair, karangan, istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang di kenal. Misalnya:
- Kata Hasan, “ saya ikut. “
8. Tanda Petik Tunggal ( ‘ … ‘ )
Tanda petik tunggal menggapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing. Misalnya:
-          Lailatul Qadar ’malam bernilai’
4.  Ruang lingkup EYD mencangkup lima aspek, yaitu:
1. Pemakaian Huruf
2. Penulisan Huruf
3. Penulisan Kata
4. Penulisan unsure serapan
5. Pemakaian Tanda Baca
A . Pemakaian huruf membicarakan bagian-bagian dasar dari suatu bahasa, yaitu
1.Abjad                                                                                 
2. Pemenggalan
3. Vokal                                                                                
4. Konsonan
B . Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi
1. Huruf Kapital
2. Huruf Miring
C . Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3.  Kata Ulang
4. Gabungan Kata
5.  Kata Ganti kau, ku, mu,dan  nya
6. Kata Depan di, ke, dan dari
7. Kata Sandang si dan sang
8. Partikel
9. Singkatan dan Akronim
10.Angka dan Lambang Bilangan

E . Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama kosa kata yang berasal dari bahasa asing.
F . Pemakaian tanda baca (pungtuasi) membicarakan teknik penerapan tanda baca dalam penulisan dengan kaidanya masing-masing

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa:

a.  Masing masing tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita harus cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang telah di tetapkan
b.  Penggunaan ejaan yang disempurnakan (E Y D) sangat dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.
c. Penggunaan tanda baca perlu untuk dipahami dan dipelajari lebih detail agar penggunaan tanda baca pada karya ilmiah menjadi benar dan mudah dipahami oleh masyarakat.  

DAFTAR PUSTAKA

Sugihastuti, dkk. 2006. Editor Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
Finoza, Lamudin. 1993.Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia,. 
Alwi, Hasan. Dkk. 2003, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi-2. Jakarta: Balai Pustaka.